15.KELASI : MENGENYAHKAN LOGAM- LOGAM TOKSIK (dr Rudy Sutadi SpA, MARS, S Pd.I)
[ RINGKASAN 15 DARI 17 – BIOMEDICAL
INTERVENTION THERAPY]
KELASI : MENGENYAHKAN LOGAM-
LOGAM TOKSIK
(dr Rudy Sutadi SpA, MARS, S Pd.I)
DASAR PEMIKIRAN :
Banyak penyandang autisme yang
memiliki kadar rendah pada glutathione
aktif, dan sejumlah besar fraksi
glutathione mereka teroksidasi (inaktif).
Glutathione adalah pertahanan primer
tubuh melawan merkuri, logam-logam
toksik, dan berbagai bahan-bahan kimia
toksik, sehingga kadar glutathione yang
rendah menyebabkan beban toksin-toksin
yang besar pada tubuh.
Selain itu, banyak penyandang autisme
yang sering mendapat antibiotik pada
masa bayi, yang mengganggu flora usus
dan menyebabkan hampir hilangnya
kemampuan tubuh untuk mengenyahkan
merkuri.
Menormalkan glutathione,
mengembalikan flora usus, dan
mengenyahkan logam-logam toksik sering
menyebabkan berkurangnya gejala-gejala
autisme.
PERSIAPAN TERAPI :
Sebelum memulai kelasi, sangat penting
untuk terlebih dahulu mempersiapkan
tubuh untuk hal tersebut. Antara lain :
1. Kurangi paparan terhadap toksin-
toksin (makanan organik, penyaringan
air dengan reverse osmosis, jangan
gunakan tambalan merkuri/amalgam,
hindari pestisida, dlsb.).
2. Perbaiki kadar-kadar vitamin dan
mineral (lihat bab vitamin dan mineral)
3. Perbaiki kadar glutathione (lihat
bab glutathione)
4. Terapi disbiosis usus (lihat bab
terapi usus)
TESTING :
Ada beberapa cara yang baik untuk
melakukan tes terhadap intoksikasi logam
berat, yaitu
1. Urinary porphyrins : Tes ini untuk
mencek kadar abnormal porphyrin di
urin, di mana kadar porphyrin yang
berbeda berkorelasi dengan beban
tubuh terhadap merkuri, timbal,
dan logam-logam toksik lainnya.
Lihat http://www.labbio.net
2. Challenge dose : Coba berikan DMSA
atau DMPS, dan ukur kadar logam-
logam berat di urine sebelum dan
sesudahnya. Peningkatan dalam
jumlah besar menunjukkan bahwa
terdapat logam-logam tersebut, dan
obat tersebut berguna dalam
mengenyahkan mereka.
Tes rambut, darah, dan urine non-
provokasi hanya menunjukkan paparan
logam-logam beberapa waktu terakhir,
bukan menentukan paparan masa lalu.
Penyandang autisme mungkin memiliki
beban tubuh yang tinggi, tetapi kadar
pada rambut, darah, atau urin mereka
normal.
TERAPI :
Terapi kelasi yang direkomendasikan oleh
DAN! meliputi DMSA, DMPS, dan TTFD.
DMSA :
DMSA oral disetujui oleh FDA untuk terapi
keracunan timbal pada anak-anak.
Bentuk supositoria rektal tampaknya juga
meningkatkan ekskresi logam-logam
berat, tetapi bentuk transdermal tidak
memperlihatkan ekskresi logam-logam
toksik.
Keamanan :
DMSA hanya sedikit mempengaruhi
ekskresi dari berbabagai mineral-mineral
esensial, sehingga suplementasi mineral
biasa dapat mengkompensasi hal ini.
Pengecualian adalah pada dosis awal,
DMSA membuang sejumlah besar kalium
(yang sama besarnya dengan satu pisang),
yang tidak termasuk dalam suplementasi
mineral, sehingga 1-2 porsi buah segar
atau sayuran perlu dikonsumsi untuk
mengembalikan kadar kalium.
DMSA juga secara bermakna
meningkatkan ekskresi cysteine, sehingga
perlu disuplementasi sebelum dan/atau
selama terapi.
DMSA mempunyai sedikit kemungkinan
meningkatkan enzim-enzim hati atau
menurunkan jumlah sel-sel darah,
sehingga perlu dimonitor selama terapi.
DMPS :
DMPS belum disetujui oleh FDA, tetapi
dokter di Amerika tetap bisa
mendapatkannya secara legal dalam
bentuk sediaan untuk IV, oral, dan rektal,
yang kesemuanya dapat meningkatkan
ekskresi logam-logam toksik.
Bentuk transdermal tampaknya tidak
meningkatkan ekskresi logam-logam
toksik.
Keamanan :
DMPS sedikit meningkatkan ekskresi
beberapa mineral esensial, sehingga
suplementasi mineral biasa
direkomendasikan untuk
mengkompensasi kehilangan ini. Tidak
diketahui apakah juga menyebabkan
kehilangan kalium.
DMPS mempunyai sedikit kemungkinan
dalam meningkatkan enzim-enzim hati
atau menurunkan jumlah sel-sel darah,
sehingga hal-hal tersebut perlu dimonitor
saat terapi.
TTFD :
Suatu penelitian kecil pada TTFD
(digunakan sebagai supositoria rektal)
menghasilkan peningkatan ekskresi
arsenik dan mungkin logam-logam
lainnya, dan juga secara bermakna
mengurangi gejala-gejala autistik. Bentuk
transdermal juga mungkin bermanfaat,
walau perlu dilakukan penelitian lebih
lanjut.
Keamanan :
TTFD tampaknya sangat aman. Pada
penelitian binatang, dengan dosis besar,
tidak ditemukan tanda-tanda toksisitas.
Informasi lebih lanjut dapat dibaca pada
DAN! Consensus Report on Treating
Mercury Toxicity in Children with Autism.
Consensus Report ini memuat banyak
saran terinci untuk pra-terapi, terapi,
dosis, dan keamanan.
Efektivitas terapi berdasar penilaian oleh
orangtua (Parent Rating) :
Dari 324 laporan : 2% memburuk, 22%
tidak ada perubahan, 76% membaik.
PENELITIAN :
Terdapat cukup bukti yang mengesankan
bahwa banyak penyandang autisme
menderita paparan merkuri, dan mungkin
logam-logam toksik lain dan bahan-bahan
kimia toksik.
Data tersebut antara lain :
1. Tinjauan pustaka oleh Bernard dkk.
memperlihatkan bahwa gejala-gejala
autisme sangat mirip dengan orang
yang menderita keracunan merkuri
yang terpapar saat masa bayi. (Bernard
S, Enayati A, Redwood L, Roger H,
Binstock T. Autism : a novel form of
mercury poisoning. Med Hypotheses,
2001 Apr;56(4):462-71. Review.
2. Penelitian oleh James dkk.
mendapatkan bahwa penyandang
autisme memiliki kadar glutathione
yang rendah, yang merupakan
pertahanan primer tubuh terhadap
merkuri. (James et al., Metabolic
endophenotype and related genotypes
are associated with oxidative stress
in children with autism. Am J Med
Genet B Neruopsychiatr Genet. 2006
Dec 5;141(8):947-56.
3. Penelitian besar oleh Nataf dkk.,
mendapatkan bahwa lebih dari
separuh dari penyandang autisme
memiliki kadar abnormal porfirin pada
urine mereka yang sangat
berkorelasi dengan tingginya beban
tubuh terhadap merkuri. (Nataf R,
Skorupka C, Amet L, Lam A,
Springbett A, Lathe R. Porphyrinuria
in childhood autistic disorder:
implications for environmental
toxicity. Toxicol Appl Pharmacol.
2006 Jul 15;214(2):99-108)
4. Penelitian oleh Bradstreet dkk.,
mendapatkan bahwa penyandang
autisme mengekskresi merkuri 3-6x
lebih banyak dari anak-anak
umumnya jika keduanya diberi DMSA.
(Bradstreet J., Geier DA, Kartzinel JJ,
Adams JB, Geier MR, A Case-Control
Study of Mercury Burden in
Children with Autistic Spectrum
Disorders, J. Am. Phys. Surg 8(3)
2003 76-79).
5. Penelitian pada rambut bayi oleh
Holmes dkk., menemukan bahwa
penyandang autisme memiliki kadar
merkuri yang rendah yang tidak biasa
pada rambut bayi mereka (1/8 dari
normal), mengesankan bahwa
terdapat penurunan kemampuan
untuk mengekskresi merkuri. Studi
serupa oleh Adams dkk., mendapatkan
hasil yang mirip walau tidak sama
dramatisnya. Penelitian Adams dkk.,
juga mendapatkan bahwa
penyandang autisme menggunakan
antibiotik oral yang jauh lebih
banyak dibanding umumnya anak.
Hal ini penting karena penggunaan
antibiotik oral menghilangkan
hampir keseluruhan kemampuan
tubuh untuk mengekskresi merkuri.
(Holmes AS, Blaxill MF, Haley BE.
Reduced levels of mercury in first
baby haircuts of autistic children. Int J
Toxicol. 2003 Jul-Aug;22(4):277-85).
6. Sebuah penelitian kecil oleh Adams
dkk. mendapatkan bahwa penyandang
autisme mempunyai merkuri pada
gigi mereka 2 kali lebih banyak
dibanding anak seumumnya,
mengesankan bahwa mereka
memiliki beban tubuh yang tinggi
terhadap merkuri selama masa bayi
mereka saat terjadi pembentukan gigi.
Penelitian tersebut juga
mendapatkan bahwa penyandang
autisme tersebut menggunakan
antibiotik oral yang lebih tinggi saat
masa bayi mereka, sesuai dengan pada
penelitian rambut bayi mereka.
7. Dua penelitian uap merkuri, di
Texas dan San Fransisco, mendapatkan
bahwa jumlah merkuri di udara
berkorelasi dengan insidens
intoksikasi merkuri. (Windham et al,
Autism spectrum disorders in
relation to distribution of hazardous air
pollutants in the San Francisco bay
area. Environ Health Perspect. 2006
Sep;114(9):1438-44). (Palmer RF,
Blanchard S, Stein Z, Mandell D,
Miller C. Environmental mercury
release, special education rates, and
autism disorder: an ecological study
of Texas. Health Place. 2006 Jun;
12(2):203-9).
8. Terdapat 9 penelitian epidemiologis
terhadap hubungan antara thimerosal
di dalam vaksin dan autisme. Empat
penelitian yang dipublikasi oleh Geiers
secara konsiten telah mendapatkan
bahwa anak-anak yang mendapat
vaksin yang mengandung thimerosal
memiliki 2-6x kemungkinan menjadi
autisme dibanding mereka yang
mendapat vaksin yang tidak
mengandung thimerosal. Empat
penelitian yang dipublikasi oleh
kelompok yang berafiliasi dengan
pabrik vaksin telah gagal
menemukan hubungan, dan satu
penelitian tidak dapat disimpulkan
(inconclusive). Tiga dari penelitan
tersebut dilakukan di negara yang
penggunan thimerosal sangat minim
dan insidens autisme kecil,
sehingga hasil-hasil tersebut sedikit
relevansinya.
ȟ��5
INTERVENTION THERAPY]
KELASI : MENGENYAHKAN LOGAM-
LOGAM TOKSIK
(dr Rudy Sutadi SpA, MARS, S Pd.I)
DASAR PEMIKIRAN :
Banyak penyandang autisme yang
memiliki kadar rendah pada glutathione
aktif, dan sejumlah besar fraksi
glutathione mereka teroksidasi (inaktif).
Glutathione adalah pertahanan primer
tubuh melawan merkuri, logam-logam
toksik, dan berbagai bahan-bahan kimia
toksik, sehingga kadar glutathione yang
rendah menyebabkan beban toksin-toksin
yang besar pada tubuh.
Selain itu, banyak penyandang autisme
yang sering mendapat antibiotik pada
masa bayi, yang mengganggu flora usus
dan menyebabkan hampir hilangnya
kemampuan tubuh untuk mengenyahkan
merkuri.
Menormalkan glutathione,
mengembalikan flora usus, dan
mengenyahkan logam-logam toksik sering
menyebabkan berkurangnya gejala-gejala
autisme.
PERSIAPAN TERAPI :
Sebelum memulai kelasi, sangat penting
untuk terlebih dahulu mempersiapkan
tubuh untuk hal tersebut. Antara lain :
1. Kurangi paparan terhadap toksin-
toksin (makanan organik, penyaringan
air dengan reverse osmosis, jangan
gunakan tambalan merkuri/amalgam,
hindari pestisida, dlsb.).
2. Perbaiki kadar-kadar vitamin dan
mineral (lihat bab vitamin dan mineral)
3. Perbaiki kadar glutathione (lihat
bab glutathione)
4. Terapi disbiosis usus (lihat bab
terapi usus)
TESTING :
Ada beberapa cara yang baik untuk
melakukan tes terhadap intoksikasi logam
berat, yaitu
1. Urinary porphyrins : Tes ini untuk
mencek kadar abnormal porphyrin di
urin, di mana kadar porphyrin yang
berbeda berkorelasi dengan beban
tubuh terhadap merkuri, timbal,
dan logam-logam toksik lainnya.
Lihat http://www.labbio.net
2. Challenge dose : Coba berikan DMSA
atau DMPS, dan ukur kadar logam-
logam berat di urine sebelum dan
sesudahnya. Peningkatan dalam
jumlah besar menunjukkan bahwa
terdapat logam-logam tersebut, dan
obat tersebut berguna dalam
mengenyahkan mereka.
Tes rambut, darah, dan urine non-
provokasi hanya menunjukkan paparan
logam-logam beberapa waktu terakhir,
bukan menentukan paparan masa lalu.
Penyandang autisme mungkin memiliki
beban tubuh yang tinggi, tetapi kadar
pada rambut, darah, atau urin mereka
normal.
TERAPI :
Terapi kelasi yang direkomendasikan oleh
DAN! meliputi DMSA, DMPS, dan TTFD.
DMSA :
DMSA oral disetujui oleh FDA untuk terapi
keracunan timbal pada anak-anak.
Bentuk supositoria rektal tampaknya juga
meningkatkan ekskresi logam-logam
berat, tetapi bentuk transdermal tidak
memperlihatkan ekskresi logam-logam
toksik.
Keamanan :
DMSA hanya sedikit mempengaruhi
ekskresi dari berbabagai mineral-mineral
esensial, sehingga suplementasi mineral
biasa dapat mengkompensasi hal ini.
Pengecualian adalah pada dosis awal,
DMSA membuang sejumlah besar kalium
(yang sama besarnya dengan satu pisang),
yang tidak termasuk dalam suplementasi
mineral, sehingga 1-2 porsi buah segar
atau sayuran perlu dikonsumsi untuk
mengembalikan kadar kalium.
DMSA juga secara bermakna
meningkatkan ekskresi cysteine, sehingga
perlu disuplementasi sebelum dan/atau
selama terapi.
DMSA mempunyai sedikit kemungkinan
meningkatkan enzim-enzim hati atau
menurunkan jumlah sel-sel darah,
sehingga perlu dimonitor selama terapi.
DMPS :
DMPS belum disetujui oleh FDA, tetapi
dokter di Amerika tetap bisa
mendapatkannya secara legal dalam
bentuk sediaan untuk IV, oral, dan rektal,
yang kesemuanya dapat meningkatkan
ekskresi logam-logam toksik.
Bentuk transdermal tampaknya tidak
meningkatkan ekskresi logam-logam
toksik.
Keamanan :
DMPS sedikit meningkatkan ekskresi
beberapa mineral esensial, sehingga
suplementasi mineral biasa
direkomendasikan untuk
mengkompensasi kehilangan ini. Tidak
diketahui apakah juga menyebabkan
kehilangan kalium.
DMPS mempunyai sedikit kemungkinan
dalam meningkatkan enzim-enzim hati
atau menurunkan jumlah sel-sel darah,
sehingga hal-hal tersebut perlu dimonitor
saat terapi.
TTFD :
Suatu penelitian kecil pada TTFD
(digunakan sebagai supositoria rektal)
menghasilkan peningkatan ekskresi
arsenik dan mungkin logam-logam
lainnya, dan juga secara bermakna
mengurangi gejala-gejala autistik. Bentuk
transdermal juga mungkin bermanfaat,
walau perlu dilakukan penelitian lebih
lanjut.
Keamanan :
TTFD tampaknya sangat aman. Pada
penelitian binatang, dengan dosis besar,
tidak ditemukan tanda-tanda toksisitas.
Informasi lebih lanjut dapat dibaca pada
DAN! Consensus Report on Treating
Mercury Toxicity in Children with Autism.
Consensus Report ini memuat banyak
saran terinci untuk pra-terapi, terapi,
dosis, dan keamanan.
Efektivitas terapi berdasar penilaian oleh
orangtua (Parent Rating) :
Dari 324 laporan : 2% memburuk, 22%
tidak ada perubahan, 76% membaik.
PENELITIAN :
Terdapat cukup bukti yang mengesankan
bahwa banyak penyandang autisme
menderita paparan merkuri, dan mungkin
logam-logam toksik lain dan bahan-bahan
kimia toksik.
Data tersebut antara lain :
1. Tinjauan pustaka oleh Bernard dkk.
memperlihatkan bahwa gejala-gejala
autisme sangat mirip dengan orang
yang menderita keracunan merkuri
yang terpapar saat masa bayi. (Bernard
S, Enayati A, Redwood L, Roger H,
Binstock T. Autism : a novel form of
mercury poisoning. Med Hypotheses,
2001 Apr;56(4):462-71. Review.
2. Penelitian oleh James dkk.
mendapatkan bahwa penyandang
autisme memiliki kadar glutathione
yang rendah, yang merupakan
pertahanan primer tubuh terhadap
merkuri. (James et al., Metabolic
endophenotype and related genotypes
are associated with oxidative stress
in children with autism. Am J Med
Genet B Neruopsychiatr Genet. 2006
Dec 5;141(8):947-56.
3. Penelitian besar oleh Nataf dkk.,
mendapatkan bahwa lebih dari
separuh dari penyandang autisme
memiliki kadar abnormal porfirin pada
urine mereka yang sangat
berkorelasi dengan tingginya beban
tubuh terhadap merkuri. (Nataf R,
Skorupka C, Amet L, Lam A,
Springbett A, Lathe R. Porphyrinuria
in childhood autistic disorder:
implications for environmental
toxicity. Toxicol Appl Pharmacol.
2006 Jul 15;214(2):99-108)
4. Penelitian oleh Bradstreet dkk.,
mendapatkan bahwa penyandang
autisme mengekskresi merkuri 3-6x
lebih banyak dari anak-anak
umumnya jika keduanya diberi DMSA.
(Bradstreet J., Geier DA, Kartzinel JJ,
Adams JB, Geier MR, A Case-Control
Study of Mercury Burden in
Children with Autistic Spectrum
Disorders, J. Am. Phys. Surg 8(3)
2003 76-79).
5. Penelitian pada rambut bayi oleh
Holmes dkk., menemukan bahwa
penyandang autisme memiliki kadar
merkuri yang rendah yang tidak biasa
pada rambut bayi mereka (1/8 dari
normal), mengesankan bahwa
terdapat penurunan kemampuan
untuk mengekskresi merkuri. Studi
serupa oleh Adams dkk., mendapatkan
hasil yang mirip walau tidak sama
dramatisnya. Penelitian Adams dkk.,
juga mendapatkan bahwa
penyandang autisme menggunakan
antibiotik oral yang jauh lebih
banyak dibanding umumnya anak.
Hal ini penting karena penggunaan
antibiotik oral menghilangkan
hampir keseluruhan kemampuan
tubuh untuk mengekskresi merkuri.
(Holmes AS, Blaxill MF, Haley BE.
Reduced levels of mercury in first
baby haircuts of autistic children. Int J
Toxicol. 2003 Jul-Aug;22(4):277-85).
6. Sebuah penelitian kecil oleh Adams
dkk. mendapatkan bahwa penyandang
autisme mempunyai merkuri pada
gigi mereka 2 kali lebih banyak
dibanding anak seumumnya,
mengesankan bahwa mereka
memiliki beban tubuh yang tinggi
terhadap merkuri selama masa bayi
mereka saat terjadi pembentukan gigi.
Penelitian tersebut juga
mendapatkan bahwa penyandang
autisme tersebut menggunakan
antibiotik oral yang lebih tinggi saat
masa bayi mereka, sesuai dengan pada
penelitian rambut bayi mereka.
7. Dua penelitian uap merkuri, di
Texas dan San Fransisco, mendapatkan
bahwa jumlah merkuri di udara
berkorelasi dengan insidens
intoksikasi merkuri. (Windham et al,
Autism spectrum disorders in
relation to distribution of hazardous air
pollutants in the San Francisco bay
area. Environ Health Perspect. 2006
Sep;114(9):1438-44). (Palmer RF,
Blanchard S, Stein Z, Mandell D,
Miller C. Environmental mercury
release, special education rates, and
autism disorder: an ecological study
of Texas. Health Place. 2006 Jun;
12(2):203-9).
8. Terdapat 9 penelitian epidemiologis
terhadap hubungan antara thimerosal
di dalam vaksin dan autisme. Empat
penelitian yang dipublikasi oleh Geiers
secara konsiten telah mendapatkan
bahwa anak-anak yang mendapat
vaksin yang mengandung thimerosal
memiliki 2-6x kemungkinan menjadi
autisme dibanding mereka yang
mendapat vaksin yang tidak
mengandung thimerosal. Empat
penelitian yang dipublikasi oleh
kelompok yang berafiliasi dengan
pabrik vaksin telah gagal
menemukan hubungan, dan satu
penelitian tidak dapat disimpulkan
(inconclusive). Tiga dari penelitan
tersebut dilakukan di negara yang
penggunan thimerosal sangat minim
dan insidens autisme kecil,
sehingga hasil-hasil tersebut sedikit
relevansinya.
ȟ��5
Comments
Post a Comment